Pendahuluan
Pada blog kali ini kita akan membahas tentang Konfigurasi IP Pool. IP Pool merupakan kumpulan alamat IP yang disiapkan oleh administrator jaringan untuk diberikan secara otomatis kepada perangkat (klien) melalui layanan DHCP Server. Dengan adanya IP Pool, pengelolaan alamat IP di jaringan menjadi lebih mudah dan efisien karena setiap klien akan mendapatkan IP secara otomatis tanpa perlu diatur secara manual. Dalam tutorial ini, kita akan mempraktikkan cara membuat IP Pool dan menghubungkannya ke IP DHCP-Server agar IP dapat terdistribusi sesuai rentang yang telah ditentukan. Menariknya, pada blog ini akan dijelaskan melalui dua cara konfigurasi, yaitu menggunakan Terminal Mikrotik di PNETLab dan Winbox. Melalui dua metode ini, kamu dapat memahami baik konfigurasi secara command line maupun melalui tampilan GUI, sehingga proses pengaturan jaringan menjadi lebih fleksibel dan mudah dipahami.
Step By Step
1. Via Terminal Mikrotik di Pnetlab
1.) Siapkan Topologi seperti gambar dibawah ini. 1 Cloud (Internet), 1 Router Mikrotik, 2 Switch, 3 VPC (Client). Router terhubung ke Internet menggunakan Ether1, Router terhubung dengan Switch1 dengan Ether 2 (dengan jaringan 50.50.50.0/24), Router terhubung dengan Switch 2 dengan Ether 3 (30.30.30.0/24), Switch 1 terhubung dengan VPC1 & VPC2, Switch 2 terhubung dengan VPC3.
2.) Buka terminal Mikrotik lalu login seperti biasa dengan admin dan passwordnya kosong (klik Enter). Lalu klik Ctrl+C & Ctrl+L.
3.) Selanjutnya kita ubah nama identitas Router dengan nama kita dengan command system identity set name=R-Marsa (gunakan nama kalian) lalu Enter.
4.) Setelah itu kita cek IP yang ada pada Router Mikrotik dengan command ip address pr.
5.) Lalu kita coba ping ke google untuk memastikan Router benar-benar dapat mengakses Internet, gunakan command ping google.com dan Enter.
Jika hasilnya Reply seperti gambar diatas, berarti Router dapat mengakses ke Internet
6.) Sekarang kita akan menambahkan IP yang befungsi sebagai Gateway untuk ether2. Karena pada Topologi ether2 yang terhubung ke Switch1 dengan Network 50.50.50.0/24, gunakan command ip address add address=50.50.50.1/24 interface=ether2 lalu tekan Enter.
Setelah kita menambahkan IP, kita cek apakah IP yang barus saja dibuat sudah ada pada Router apa belum dengan command ip address pr lalu tekan Enter.
7.) Selanjutnya kita akan membuat IP Pool. Gunakan command ip pool add name=LabA2-50 ranges=50.50.50.2-50.50.50.50 dan tekan Enter.
perintah ip pool add name=LabA2-50 ranges=50.50.50.2-50.50.50.50 digunakan untuk membuat IP Pool baru bernama LabA2-50, dengan rentang alamat IP dari 50.50.50.2 hingga 50.50.50.50, yang akan digunakan oleh DHCP Server untuk membagikan IP ke klien secara otomatis.
8.) Lalu kita tambahkan IP DHCP-Server menggunakan IP Pool yang baru saja dibuat. Masukkan command ip dhcp-server add address-pool=LabA2-50 interface=ether2 dan Enter.
Setelah kita menambahkan IP DHCP-Server, kita cek apakah berhasil dibuat atau tidak, gunakan command ip dhcp-server pr dan Enter. Pada DHCP-Server yang baru saja dibuat, ada huruf X di samping nama Dhcp1. Huruf X berati Disable atau gampangnya IP DHCP-Server tersebut tidak bisa digunakan.
9.) Untuk mengaktifkan IP DHCP-Server tersebut kita masukkan command ip dhcpp-server enabled numbers=0 dan Enter.
Lalu kita cek dengan command ip dhcp-server pr dan Enter. Disini huruf X nya sudah hilang, jadi kita bisa menggunakan IP DHCP-Server ini.
10.)Selanjutnya, perintah ip dhcp-server network add address=50.50.50.0/24 gateway=50.50.50.1 dns-server 8.8.8.8 netmask=255.255.255.0 digunakan untuk menambahkan konfigurasi jaringan DHCP.
Di mana gateway ditetapkan ke 50.50.50.1 (IP router), DNS server menggunakan 8.8.8.8 (DNS milik Google), dan netmask diset ke 255.255.255.0 sesuai dengan subnet jaringan.
11.) Sekarang kita coba ke Client untuk meminta IP DHCP dari Router. Buka terminal Client (disini saya menggunakan VPC1). Masukkan command ip dhcp dan Enter. Jika kita cek dengan sh ip akan muncul IP/Mask, Gateway, dll.
Kita coba melakukan ping ke Gateway, dengan command ping 50.50.50.1 dan Enter. Jika hasilnya Reply sama seperti di gambar diatas, maka berhasil.
12.) Selanjutnya kita coba ke Client 2 (VPC2) lakukan hal yang sama, mulai dari ip dhcp, sampai ping 50.50.50.1 dan hasilnya Reply.
2.Via Winbox
1.) Login ke Winbox dengan IP Dynamic pada Router. Pilih bagian IP lalu Address.
Setelah itu pilih tanda +, lalu masukkan address 30.30.30.1/24 dan Interface di Ether3 (karena ini untuk ke Switch 2 dengan Network 30.30.30.0/24). Apply dan OK.
2.) Selanjutnya pilih IP lalu Pool,
Pilih tanda + lalu beri nama dengan LabB2-130, dan Address nya 30.30.30.2-30.30.30.130. Apply dan OK.
3.) Lalu pilih IP lagi dan pilih bagian DHCP-Server.
Setelah itu pilih bagian Networks, pilih tanda + , masukkan Address dengan 30.30.30.0/24, Gateway nya 30.30.30.1, Netmask 255.255.255.0, dan DNS nya 8.8.8.8. Klik Apply dan OK.
4.) Masih dibagian IP DHCP-Server, tapi dari Networks ubah ke DHCP. Lalu klik tanda +. Name nya menjadi ServerB, Interface nya ether3, dan Address Pool ubah ke LabB2-130. Apply dan OK.
5.) Di Winbox juga bisa mengubah nama dari DHCP. Klik kiri 2x pada Dhcp1. Lalu ubah name nya menjaadi ServerB. Apply dan OK.
6.) Buka terminal VPC3 lalu minta IP ke Router dengan command ip dhcp lalu bisa cek juga IP yang ada pada VPC dengan sh ip dan kita ping ke Gateway dengan command ping 30.30.30.1 dan jika hasilnya Reply maka berhasil.
Penutup
Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa konfigurasi IP Pool sangat penting dalam pengelolaan jaringan karena mempermudah distribusi alamat IP secara otomatis melalui DHCP Server tanpa perlu mengatur IP secara manual pada setiap klien. Dengan membuat IP Pool dan menghubungkannya ke DHCP Server, setiap perangkat dalam jaringan dapat memperoleh IP sesuai rentang yang telah ditentukan. Konfigurasi ini dapat dilakukan baik melalui Terminal Mikrotik di PNETLab maupun melalui antarmuka grafis Winbox, sehingga memudahkan pengguna memahami dua metode konfigurasi yang berbeda namun memiliki tujuan yang sama. Terima kasih telah membaca blog ini, semoga pembahasan tentang Konfigurasi IP Pool ini bermanfaat dan membantu dalam memahami manajemen jaringan dengan Mikrotik.
Komentar
Posting Komentar